Rabu, 23 September 2015

Memories violin , piano And our story 思い出バイオリン、ピアノ、私たちの物語

  • Part1
    Nama ku Arigatha kousei. Sekarang usia ku sudah memasuki 17 tahun dan itu usia yang sudah bisa dikatakan masa pendewasaan. Aku orangnya tidak mau tau dan sealu belajar.
Aku tinggal dengan ayah ku. Pada saat usia ku 5 tahun ibu meninggalkan ku. Ngomong-ngomong tentang ibu aku mempunyai kenangan pahit dengan ibu. Pada saat usia ku baru 3 tahun ibu sangat menginginkan aku pandai bermain piano. Aku pun menuruti keinginan ibu.

    Waktu itu ada pertandingan memainkan piano dan ibu ku pun mendaftarkan ku. Ketika nomor urut 5 dipanggil, akupun menaiki panggung dan berjalan seperti sedang membawa upacara bendera. hahaha itu cara jalan yang konyol rasa ku. Namun tidak hanya itu saja, tingkah konyol yang lainnya ku lakukan adalah menjatuhkan bangku tempat duduk ku ketika akan bermain piano. hahah:D:D
Itu sangat konyol jika ku bayangkan sekarang karena pada saat itu usia ku 3 tahun, badan ku yang kecil yang tingginya sekitar 70 cm dan ruas kaki ku yang kecil membuat ku melakukan hal lawak dipanggung.
Ketika aku memainkan piano dengan jari-jari mungil ku,para penonton pun terdiam. Aku tidak tau mengapa mereka terdiam namun aku tetap memainkan piano ku sampai selesai. Ketika aku selesai memainkan piano ku, seorang anak perempuan menangis. Akupun melihat ke arah penonton dan kemudian aku berlari kebelakang panggung karna aku mulai gugup karna anak perempuan itu menangis.

















  • Part2
    Usia ku mulai bertambah dan pada saat itu ibu memasukkan ku sekolah. Walaupun pun aku bersekolah ibu tetap saja melatih ku bermain piano, karena ibu ingin aku menjadi seorang pianist yang hebat.
Namun menurut ku ibu kelewatan melatih ku samapi-sampai aku tidak diizin kan bermain-main dengan teman sekolah ku atau dengan sahabat dari kecil ku. Mereka bernama Wagaishi dan Tsubaina.
Mereka lah yang mengetahui semua tentang ku, kesengsaraan ku dan kesedihan ku dimasa kecil dulu.
    Wagaishi seorang anak laki-laki yang sok tampan. Sebenarnya aku cuma kurang pandai aja dalam hal bergaya jadinya kalah saing aku dengan wagaishi.hehehe:D
Sedangkan Tsubaina seorang anak perempuan yang cerewet dan tomboi. Sampai-sampai aku pernah digendong dibelakang Tsubaina sambil menangis karna kaki ku terkilir waktu bermain-main dengan mereka ditepi pantai.hahahah aku benar-benar cengeng,kikuk, cupu dan penakut dulu.huhh_-.
















  • Part3
    Ketika ibu melatih ku bermain piano, aku melakukan kesalahan hingga ibu memukul ku tangan ku sampai biru-biru, Tsubaina datang ingin mengajak ku bermain namun aku tidak diperboleh kan ibu keluar rumah hingga akhirnya ibu ku menyuruh ku masuk kedalam rumah dengan berteriak dan membuat Tsubaina menjadi ketakutan dan aku pun akhirnya menyuruh Tsubaina pulang.

    Aku mempunyai bibi yang bernama Sadabaghi. Ketika itu bibi ku datang kerumah dan memeluk ibu ku. Aku melihatnya menangis dan dia mengatakan bahwa suaminya pergi lagi sedangkan bibi ku sedang mengandung buah hati mereka. Bibi ku sangat sedih hingga dia memutuskan untuk tinggal sementara waktu dirumah kami. Aku pun sangat senang karena bibi ku dirumah. Oyaa bibi ku itu seorang pianist juga. Bibi ku pun memainkan piano dirumah kami sambil menyanyikan lagu dan ketika itu aku pun mengulang kembali permainan piano yang dimainkan oleh bibi ku sambil menyanyikan ulang lagu yang dikatakan bibi ku. Lagunya seperti ini "suamiku bodoh.. Jemput aku. Kalau tidak nanti aku selingkuh..." Dengan polosnya akupun menyanyikan ulang lagu itu. Bibi ku pun sangat senang mengetahui aku berbakat bermain piano sampai mengatakan pada ibu ku bahwa aku berbakat bermain piano hingga akhirnya bibi ku yang melatih ku bermain piano. Aku pun sangat senang karna akhirnya aku tidak akan dipukuli lagi hanya karna salah sedikit saja. Jika aku pulang kerumah dengan telat bibi tidak memarahi ku dan itu juga yang membuat ku sanagat nyaman dengan bibi ku.

    Ketika aku disekolah ternyata ibu masuk rumah sakit. Ketika ku lihat dirumah tidak ada orang akupun bingung dan akhirnya keluar rumah hingga tetangga ku yang memberi tahu ku bahwa ibu ku masuk rumah sakit dan bibi ku yang membawa ibu ku kesana. Aku pun disuru tunggu saja dirumah karna mereka akan kembali sebentar lagi.  Namun matahari pun mulai terbenam hingga aku mulai ketakutan karna sendirian dirumah. Aku pun duduk diteras rumah menunggu ibu dan bibi ku. Tak lama kemudian bibi datang dari arah pagar rumah ku. Aku pun menyampari bibi dan menanyakan kabar ibu ku. Bibi ku mengatakan bahwa kondisi ibu ku sangat buruk.
    Keesokan paginya bibi ku mengantar ku kesekolah dan menjemput ku sekolah lalu membawa ku untuk menjenguk ibu ku. Aku pun sangat senang ketika menjenguk ibu dirumah sakit.  Setiba dikamar ibu, ku lihat ibu hanya berbaring dan duduk ketika kami mengunjunginya. Aku menangis ketika melihat kondisi ibu namun ibu mengatakan kalau aku tidak boleh menangis jadi harus sering mengunjungi ibu.















  • Part4
    Akhirnya ibu ku keluar dari rumah sakit setelah dua minggu dirawat disana. Kini ibu hanya bisa berjalan dengan menggunakan kursi roda. Walaupun seperti itu aku sangat senang ketika ibu bisa dirumah lagi bersama ku, karena aku masih sangat kecil untuk ditinggal sendirian tanpa ibu. Aku memikir kan kondisi ibu, namun ibu tetap menyuruh ku untuk bermain piano agar kelak menjadi pianist hebat.
    Pada hari itu, ibu terus melatih ku keras bermain piano untuk mengikuti kontes di Atarashī hōru towara. Kontes yang bergengsi karena para pejabat menonton langsung acara itu, jurinya pun sangat terkenal yang berasal dari Tokyo.
Pada bulan April tiba akupun mulai mengikuti kontes itu. ketika nomor urut ku dipanggil, aku pun menaiki panggung dan mulai memainkan pianonya.
Ditengah permainan ku, ibu melihat permainan ku dari atas bangku penonton sambil duduk dikursi rodanya.

    Setelah selesai pertunjukan, aku pun menghampiri ibu. Namun ibu memukuli ku dengan gagang infus milik ibu sambil mengatakan: "Dasar goblok, gilak..Permainan mu jadi meleset dibagian ketiga dan kesebelas! Kamu bikin kesalahan karena terlalu emosional! Kenapa yang gampang begini saja tidak bisa? Dasar Sampah!
Ibu ku pun memukul ku sampai kaca mata ku pecah dan membuat darah keluar dari balik rambut ku.
Orang-orang yang berada disekitar situ pun melihat perlakuan ibu ku kepada ku. Sampai mereka mengatakan: "Badan anak itu menjadi memar.Pantas saja dia pakai lengan panjang terus. Tega sekali dengan anak kecil begitu.Dasar iblis   Aku pun menjadi marah pada ibu. Hingga aku mencampakkan catatan partitur kewajah ibu. Kemudian aku mengatakan pada ibu: "Padahal aku cuma mau ibu senang. Meski aku lagi mau main bersama tsubaina dan wagaishi.Meski ibu memukul ku, aku selalu bertahan dan terus latihan. Padahal aku cuma mau ibu sembuh. Aku cuma mau lihat ibu senang. Tapi ibu malah memukul ku terus.

Aku pun sangat marah hingga keluar kata-kata yang sebenarnya tak ingin ku katakan tapi kata-kata itu keluar begitu saja hingga aku benar-benar menyesalinya.


* Ibu ku pun akhirnya pergi dan meninggalkan ku selamanya hingga aku terus dihantui rasa penyesalan dan bersalah. Kepada angin yang berhembus tolong sampai kan maaf ku kepada ibu ku bahwa aku menyesal mengatakan semua itu:'(*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar