Rabu, 23 September 2015

Memories violin , piano And our story 思い出バイオリン、ピアノ、私たちの物語

Part9

Ketika karin keluar menuju penonton , banyak yang sedang membicarakan indahnya busana yang digunakan olehnya. Namun ketika karin telah selesai memainkan biolanya semua penonton berdiri dan memberi tepuk tangan yang meriah kepadanya.
Aku pun memotret moment indah tersebut








karna baru kali itu aku melihat penampilan yang sangat indah sejak sekian lama aku tidak memainkan piano ku lagi.. #imissmypiano:'(















  • Part10
Ketika aku diperjalanan pulang sekolah, aku melihat karin tak jauh dari sekolah ku.Seperti sedang menunggu seseorang.
Aku pun lewat namun dia menghadang ku dan menanyakan tentang wagaishi. Lalu ku katakan tidak tau karna sebenarnya dia sedang bermain football dengan teman-temannya.
Karin yang sedang memakai seragam yang sama dengan ku lalu ku tanyakan karna penasaran "Kenapa kau memakai seragam yang sama dengan ku?"
hmm..Aaak......uuu baru pindah kemari". Katanya sambil sedikit memberi senyuman. 
Kemudian karin pun menceritakan bahwa dia mengikuti lomba yang selanjutnya dan dia ingin wagaishi menjadi partnernya namun tak lama dia malah menyuruh ku yang menjadi partnernya.
I don't want. Kataku.
I choose you, so you must want. Katanya sambil mengejek ku sambil pergi meninggalkan ku.
Ada-ada saja kataku pada angin yang bertiup.























  • Part11
Karin pun datang kesekolah ku dengan menggunakan seragam sekolah kami.
Dia masuk keruangan yang biasanya aku sendirian didalam namun Karin dan Tsubaina masuk lalu menghampiri ku
"Pianooo".. Kata Karin sambil kagum.
Tsubaina pun menjawab "Iya itu piano yang biasa dimainkan Kourie".
"Ehhhh tidak tidak... Aku hanya melihat-lihat saja disini". Jawab ku sambil terbata-bata.
"Kau ingin berbohong padaku kourie"..........??? Kata Tsubaina padaku.
"Kalau begitu pilihan ku memang tepat kalau Arigatha menjadi partner ku". Kata Karin
"Baiklah itu memang benar;)".
"Kau ini Tsubaina bukan membelaku malah mendukungnya. Menyebalkan-_-". Kataku dengan ketus.
"Jangan lupa berlatih laa agar kita bisa melakukannya bersama-sama. Musik yang akan kita mainkan adalah Saint-saens dan Rondo Capriccioso. Yosh Ganbathe:)".

Memories violin , piano And our story 思い出バイオリン、ピアノ、私たちの物語

  • Part5
    Kini aku tinggal bersama ayah ku namun ayah ku jarang dirumah. Aku pun banyak menghabiskan waktu bersama Tsubaina dan Wagaishi. Kami bertiga pun satu sekolah.
Kami masih saja dengan hobi kami masing-masing. Disekolah Tsubaina mengikuti ekstra kulikuler baseball, Wagaishi mengikuti ekstra kulikuler football dan aku sendiri masih saja suka menyendiri diruang piano sekolah ku. Kami bertiga sering pulang bersama setiap hari. Namun Tsubaina lah yang sering pergi dan pulang sekolah bersama ku. Karna rumah Tsubaina bersampingan dengan rumah ku.
Dialah yang mengetahui semua tentang ku.#Sebenarnya cemana gak tau dia, orang rumah dia disamping rumah ku.hahaha:D
Aku tidak tau pasti sebenarnya tapi menurut ku Tsubaina sangat peduli terhadap ku. Namun sikap Tsubaina sering, sok-sok marah tapi peduli, sok-sok mengelak kalau sedang curi-curi pandang tapi memang sedang curi-curi pandang terhadap ku dan sering kali sok-sok mengajak ngobrol tapi sebenarnya mau dekat-dekat sama aku.
#Oalah Tsubaina-tsubaina.. Kenapa laa kamu kek gitu?!
Padahal aku cowok cupu yang setiap hari memakai kaca mata, memasukkan seragam ku kedalam celana, tidak pandai berolah raga dan banyak lagi kekurangan ku tapi aku tetap besikap biasa saja kepadamu karna aku gak ingin merusak persahabatan kita ini hanya karna kau menyukai ku Tsubainaa..















  • Part6
Tsubaina juga mengetahui aku pandai bermain piano namun piano sekarang menjadi musuh ku. Tapi tah mengapa pada saat pulang sekolah Tsubaina mengajak ku menonton kontes diAtarashī hōru towa dan Wagaishi juga diajak oleh wanita itu.
Pada pukul 2 siang aku sampai ditaman  Atarashī hōru towa namun Tsubaina dan Wagaishi belum sampai. Akupun bergumam dalam hati karna mereka menyuruh ku agar jangan telat datang, padahal mereka  telat juga datangnya.huuh-_-.












  • Part7

Ketika aku menunggu kedatangan Tsubaina dan Wagaishi , aku mendengar seseorang memainkan pianika. Akupun mencari asal suaranya dan ku temukan suara itu didekat taman bermain anak-anak.
Ku lihat seorang gadis yang sangat manis sedang memain kan itu bersama  ketiga anak kecil.
Aku sangat terpesona dengannya. Dengan penampilannya yang memakai terusan sampai seatas lutut saja, rambut berwarna kuning yang indah sambil dikucir belakang dan memainkan pianika birunya dengan merdu. Aku pun akhirnya memutus kan untuk memotretnya.
Awalnya aku memotrenya seperti ini


Namun ketika ku arahkan ponsel ku kepadanya, ku lihat baju terusan itu menaik karna tertiup angin. Hingga aku pun ketahuan karna memotret seperti ini


 Akupun ketahuan karna memotretnya seperti itu.hahahaahah
Hingga wanita itu langsung berubah menjadi monster dan melihat ke arah ku lalu dia pun memukul ku dengan pianikanya itu.


#disangka wanita itu aku memotret pakaian dalamnya padahal kan aku cuma beruntung aja karna ada hembusan angin jadinya terlihat dikit deh.heheheh... huhh dasar wanita sakit tau-_-.


















  • Part8
Tak lama kemudian Tsubaina dan Wagaishi pun datang lalu Tsubaina pun mengatakan : "Karin Mizanae".
Wanita itu pun berhenti memukuli ku.
#untung lah mereka datang kalau tidak tambah jelek deh akunya, berbicara dalam hati ku.
Kemudian Wagaishi pun melihat wanita monster itu dengan mata yang ada bintangnya sambil mengatakan "manisnya".
#huuh manis sih memang tapi galak amatttt. Ampun dehh!!! Berbicara lagi dalam hati.
Wanita itu pun menghampiri Wagaishi dengan mata yang ada bintangnya juga sambil mengatakan : "Arigatho"
Tsubaina menghampiri ku dan mengatakan : "apa kau baik-baik saja Kousei? Aku pun hanya menggeleng-gelengkan kepala tanda bahwa aku baik-baik saja.
Karin perkenalkan ini kousei teman ku kata Tsubaina memperkenalkan ku dengan wanita itu.
Cowok mesum ini teman mu ya.. Awas kau nanti. katanya berbisik sambil melihat kearah ku.
Ayo karin kita masuk dan menyaksikan pertunjukan mu. Kata Tsubaina.
Apa? kamu akan tampil? wah hebatnya.. Udah cantik dan manis pandai juga lagi Rayuan dari Wagaishi_-.
Arigatho wagaishi kata karin sambil tersenyum lebar.

Kemudian kami pun berlari-lari kedalam gedung Atarashī hōru towa karena sebentar lagi karin akan tampil.

Memories violin , piano And our story 思い出バイオリン、ピアノ、私たちの物語

  • Part1
    Nama ku Arigatha kousei. Sekarang usia ku sudah memasuki 17 tahun dan itu usia yang sudah bisa dikatakan masa pendewasaan. Aku orangnya tidak mau tau dan sealu belajar.
Aku tinggal dengan ayah ku. Pada saat usia ku 5 tahun ibu meninggalkan ku. Ngomong-ngomong tentang ibu aku mempunyai kenangan pahit dengan ibu. Pada saat usia ku baru 3 tahun ibu sangat menginginkan aku pandai bermain piano. Aku pun menuruti keinginan ibu.

    Waktu itu ada pertandingan memainkan piano dan ibu ku pun mendaftarkan ku. Ketika nomor urut 5 dipanggil, akupun menaiki panggung dan berjalan seperti sedang membawa upacara bendera. hahaha itu cara jalan yang konyol rasa ku. Namun tidak hanya itu saja, tingkah konyol yang lainnya ku lakukan adalah menjatuhkan bangku tempat duduk ku ketika akan bermain piano. hahah:D:D
Itu sangat konyol jika ku bayangkan sekarang karena pada saat itu usia ku 3 tahun, badan ku yang kecil yang tingginya sekitar 70 cm dan ruas kaki ku yang kecil membuat ku melakukan hal lawak dipanggung.
Ketika aku memainkan piano dengan jari-jari mungil ku,para penonton pun terdiam. Aku tidak tau mengapa mereka terdiam namun aku tetap memainkan piano ku sampai selesai. Ketika aku selesai memainkan piano ku, seorang anak perempuan menangis. Akupun melihat ke arah penonton dan kemudian aku berlari kebelakang panggung karna aku mulai gugup karna anak perempuan itu menangis.

















  • Part2
    Usia ku mulai bertambah dan pada saat itu ibu memasukkan ku sekolah. Walaupun pun aku bersekolah ibu tetap saja melatih ku bermain piano, karena ibu ingin aku menjadi seorang pianist yang hebat.
Namun menurut ku ibu kelewatan melatih ku samapi-sampai aku tidak diizin kan bermain-main dengan teman sekolah ku atau dengan sahabat dari kecil ku. Mereka bernama Wagaishi dan Tsubaina.
Mereka lah yang mengetahui semua tentang ku, kesengsaraan ku dan kesedihan ku dimasa kecil dulu.
    Wagaishi seorang anak laki-laki yang sok tampan. Sebenarnya aku cuma kurang pandai aja dalam hal bergaya jadinya kalah saing aku dengan wagaishi.hehehe:D
Sedangkan Tsubaina seorang anak perempuan yang cerewet dan tomboi. Sampai-sampai aku pernah digendong dibelakang Tsubaina sambil menangis karna kaki ku terkilir waktu bermain-main dengan mereka ditepi pantai.hahahah aku benar-benar cengeng,kikuk, cupu dan penakut dulu.huhh_-.
















  • Part3
    Ketika ibu melatih ku bermain piano, aku melakukan kesalahan hingga ibu memukul ku tangan ku sampai biru-biru, Tsubaina datang ingin mengajak ku bermain namun aku tidak diperboleh kan ibu keluar rumah hingga akhirnya ibu ku menyuruh ku masuk kedalam rumah dengan berteriak dan membuat Tsubaina menjadi ketakutan dan aku pun akhirnya menyuruh Tsubaina pulang.

    Aku mempunyai bibi yang bernama Sadabaghi. Ketika itu bibi ku datang kerumah dan memeluk ibu ku. Aku melihatnya menangis dan dia mengatakan bahwa suaminya pergi lagi sedangkan bibi ku sedang mengandung buah hati mereka. Bibi ku sangat sedih hingga dia memutuskan untuk tinggal sementara waktu dirumah kami. Aku pun sangat senang karena bibi ku dirumah. Oyaa bibi ku itu seorang pianist juga. Bibi ku pun memainkan piano dirumah kami sambil menyanyikan lagu dan ketika itu aku pun mengulang kembali permainan piano yang dimainkan oleh bibi ku sambil menyanyikan ulang lagu yang dikatakan bibi ku. Lagunya seperti ini "suamiku bodoh.. Jemput aku. Kalau tidak nanti aku selingkuh..." Dengan polosnya akupun menyanyikan ulang lagu itu. Bibi ku pun sangat senang mengetahui aku berbakat bermain piano sampai mengatakan pada ibu ku bahwa aku berbakat bermain piano hingga akhirnya bibi ku yang melatih ku bermain piano. Aku pun sangat senang karna akhirnya aku tidak akan dipukuli lagi hanya karna salah sedikit saja. Jika aku pulang kerumah dengan telat bibi tidak memarahi ku dan itu juga yang membuat ku sanagat nyaman dengan bibi ku.

    Ketika aku disekolah ternyata ibu masuk rumah sakit. Ketika ku lihat dirumah tidak ada orang akupun bingung dan akhirnya keluar rumah hingga tetangga ku yang memberi tahu ku bahwa ibu ku masuk rumah sakit dan bibi ku yang membawa ibu ku kesana. Aku pun disuru tunggu saja dirumah karna mereka akan kembali sebentar lagi.  Namun matahari pun mulai terbenam hingga aku mulai ketakutan karna sendirian dirumah. Aku pun duduk diteras rumah menunggu ibu dan bibi ku. Tak lama kemudian bibi datang dari arah pagar rumah ku. Aku pun menyampari bibi dan menanyakan kabar ibu ku. Bibi ku mengatakan bahwa kondisi ibu ku sangat buruk.
    Keesokan paginya bibi ku mengantar ku kesekolah dan menjemput ku sekolah lalu membawa ku untuk menjenguk ibu ku. Aku pun sangat senang ketika menjenguk ibu dirumah sakit.  Setiba dikamar ibu, ku lihat ibu hanya berbaring dan duduk ketika kami mengunjunginya. Aku menangis ketika melihat kondisi ibu namun ibu mengatakan kalau aku tidak boleh menangis jadi harus sering mengunjungi ibu.















  • Part4
    Akhirnya ibu ku keluar dari rumah sakit setelah dua minggu dirawat disana. Kini ibu hanya bisa berjalan dengan menggunakan kursi roda. Walaupun seperti itu aku sangat senang ketika ibu bisa dirumah lagi bersama ku, karena aku masih sangat kecil untuk ditinggal sendirian tanpa ibu. Aku memikir kan kondisi ibu, namun ibu tetap menyuruh ku untuk bermain piano agar kelak menjadi pianist hebat.
    Pada hari itu, ibu terus melatih ku keras bermain piano untuk mengikuti kontes di Atarashī hōru towara. Kontes yang bergengsi karena para pejabat menonton langsung acara itu, jurinya pun sangat terkenal yang berasal dari Tokyo.
Pada bulan April tiba akupun mulai mengikuti kontes itu. ketika nomor urut ku dipanggil, aku pun menaiki panggung dan mulai memainkan pianonya.
Ditengah permainan ku, ibu melihat permainan ku dari atas bangku penonton sambil duduk dikursi rodanya.

    Setelah selesai pertunjukan, aku pun menghampiri ibu. Namun ibu memukuli ku dengan gagang infus milik ibu sambil mengatakan: "Dasar goblok, gilak..Permainan mu jadi meleset dibagian ketiga dan kesebelas! Kamu bikin kesalahan karena terlalu emosional! Kenapa yang gampang begini saja tidak bisa? Dasar Sampah!
Ibu ku pun memukul ku sampai kaca mata ku pecah dan membuat darah keluar dari balik rambut ku.
Orang-orang yang berada disekitar situ pun melihat perlakuan ibu ku kepada ku. Sampai mereka mengatakan: "Badan anak itu menjadi memar.Pantas saja dia pakai lengan panjang terus. Tega sekali dengan anak kecil begitu.Dasar iblis   Aku pun menjadi marah pada ibu. Hingga aku mencampakkan catatan partitur kewajah ibu. Kemudian aku mengatakan pada ibu: "Padahal aku cuma mau ibu senang. Meski aku lagi mau main bersama tsubaina dan wagaishi.Meski ibu memukul ku, aku selalu bertahan dan terus latihan. Padahal aku cuma mau ibu sembuh. Aku cuma mau lihat ibu senang. Tapi ibu malah memukul ku terus.

Aku pun sangat marah hingga keluar kata-kata yang sebenarnya tak ingin ku katakan tapi kata-kata itu keluar begitu saja hingga aku benar-benar menyesalinya.


* Ibu ku pun akhirnya pergi dan meninggalkan ku selamanya hingga aku terus dihantui rasa penyesalan dan bersalah. Kepada angin yang berhembus tolong sampai kan maaf ku kepada ibu ku bahwa aku menyesal mengatakan semua itu:'(*

Memories violin , piano And our story 思い出バイオリン、ピアノ、私たちの物語


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya ucapkan kepada Allah Swt, karena hanya berkat dan petolongan-Nya, saya dapat menyusun novel saya ini.
Saya berharap novel ini dapat menghibur dan memotivasi Anda.
Saya menyadari bahwa didalam novel saya terdapat kekurangan. Jika ada kesalahan dalam penyusunan novel saya ini, Anda boleh mengkritik dan memberi saran kepada saya untuk penyempurnaan novel yang akan saya buat selanjutnya. Anda pun bisa mengirim kritikan dan saran Anda ke e-mail saya di "dinijulianiprd@gmail.com".
Terima kasih.